Quran Itu Motivasi Hidup
Selalu
kita duduk tertegun, terkesima, dan sangat serius mendengar petuah
seorang motivator. Setiap kalimat yang meluncur dari bibir motivator itu
tak boleh terlewatkan. begitulah seriusnya kita mencari motivasi hidup.
Sampai-sampai kita dengan rela hati mengeluarkan uang ratusan ribu
rupiah hanya untuk mendengar petuah-petuah sang motivator.
bukankah di lemari ada buku yang bisa memotivasi anda.
Buku itu datang dari Rabb kita. Rabb kita tidak pernah meminta bayaran
ketika buku itu kita baca. Apa yang kurang dari kitab itu? Di dalamnya
banyak motivasi hidup, yang lebih hebat dari kata-kata motivator itu,
karena motivasi itu datang langsung dari Pemilik Semesta Raya itu.
Motivasi itu datang dari Yang Maha Menghidupkan, Sang Pemberi Rezeki
yang menghidupi kita.
Memang kita butuh motivasi, untuk
menyemangati, supaya kita bisa lalui problema hidup dengan baik. Rezeki,
adalah satu dari sekian banyak problema hidup yang selalu kita
risaukan. Lalu kita butuh motivasi untuk menyelesaikan kerisauan itu.
Dan Allah telah memberi motivasi kepada kita.
Bukan Allah telah mengatakan "dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya".
Tidakkah ayat 6 surah Huud ini bisa membangkitkan semangat kita?
Bukankah ini kata-kata dari Tuhan kita..yang menghidupkan kita dan
mencukupi segala kebutuhan makhluqNya.
Rabu, 26 Februari 2014
Sabtu, 01 Februari 2014
USTAZD dan TELEVISI
USTAZD dan
TELEVISI
Oleh : Muhammad
Hidayat
Alumnus
Pascasarjana IAIN SU/ Dosen STIK "Pembangunan" Medan
Kita lazim mendengar orang berkata
"ustaz aja bilang boleh". Ada juga yang berujar "ustaz aja kayak
gitu". Ucapan itu biasanya digunakan untuk membenarkan suatu perbuatan
yang tidak lazim dilakukan masyarakat. Memang, ustaz adalah orang menguasai
ilmu-ilmu tentang keislaman. Biasanya, sang ustaz dikenal sebagai orang yang
taat menjalankan ajaran agama dibandingkan masyarakat kebanyakan. Dengan ilmu
yang dimilikinya, ustaz menjadi penentu
sebuah perbuatan itu benar atau salah. Ustaz menjadi sumber rujukan masyarakat
dalam bertingkah laku.
Di awal tulisan ini, penulis memuat
dua ungkapan masyarakat untuk menunjukkan betapa pengaruhnya seorang ustaz.
Pada ungkapan pertama "ustaz aja bilag boleh" menunjukkan legalitas
perbuatan itu ditentukan dengan penyataan sang ustaz. Sementara pada pernyataan
kedua "ustaz aja kayak gitu" menunjukkan pembenaran perbuatan itu dari
prilaku ustaz. Kalau ustaz melakukan sesuatu berarti perbuatan itu boleh
dilakukan. Karena, masyarakat mengenal seoarang ustaz sebagai orang berilmu dan
taat menjalankan ajaran agama.
Dahulu, seorang ustaz lahir dari
tengah-tengah masyarakat melalui proses yang panjang. Biasanya, masyarakat
mengenal latar belakang keluarga, pendidikannya dan pergaulannya. Label ustaz
diberikan oleh masyarakat kepada orang yang dinilai pantas menerima gelar itu. Seorang bisa dibilang ustaz, kalau ia mampu
menjawab persoalan agama dan taat
menjalankan perintah agama. Jika masyarakat menilai hal itu tidak dimilikinya,
maka masyarakat akan menolaknya.
Penahbisan
Melalui Televisi
Kini, hal itu tidak berlaku lagi. Seseorang bisa saja muncul
menjadi seorang ustaz. Masyarakat tidak mengetahui kemampuan ilmunya, apalagi
mengetahui latar belakang keluarga dan pergaulannya. Label ustaz itu
ditahbiskan oleh televisi bukan masyarakat. Kalau televisi mengatakan seseorang
itu ustaz maka masyarakat juga
menerimanya sebagai ustaz. Fenomena itulah
yang terjadi saat ini.
Dalam teori komunikasi massa dikenal teori Agenda Setting. Kurt
Lang dan Gladys Enggel Lang (1959) menulis beberapa pokok pikiran tentang teori
ini. Mereka menyebutkan media massa memaksakan perhatian pada issu-issu tertentu.
Media massa secara konstan menghadirkan objek-objek yang menunjukkan apa yang
hendaknya dipertimbangkan, diketahui, dan dirasakan individu-individu dalam
masyarakat. Hal senada juga disampaikan oleh Funkhoser. Pendapatnya didasarkan
penelitian tentang hubungan opini publik dengan isi media massa. Penelitian ini
menunjukkan isu-isu yang diberi peringkat tertinggi oleh publik adalah isu-isu
yang sering diliput oleh media massa.
Merujuk pada teori ini, penonton televisi akan mengukuhkan seseorang
menjadi ustaz jika orang tersebut ditampilkan berulang-ulang. Seseorang bisa
saja disulap menjadi ustaz walau ia tidak paham tentang ilmu agama. Caranya, ustaz
televisi itu menghafal mati materi yang akan disampaikan serta cara penyampaiannya.
Ustaz bersangkutan menghafal cara bertutur, kapan harus menggunakan nada
tinggi, rendah atau datar saja. Dengan demikian, penonton akan mempersepsi
ustaz televisi itu sangat paham dengan ilmu agama. Tidak lupa, ustaz televisi itu didandani
seperti ustaz kebanyakan. Untuk memudahkan ustaz bergaya, program siaran dibuat
dalam bentuk rekaman (recording) sehingga produser program bisa mengedit
kesalahan sebelum ditayangkan. Jika program itu disiarkan langsung (live) maka sesi
tanya jawab tidak dibuka. Hal ini dilakukan untuk mencegah penonton bertanya
diluar materi yang dihafal sang ustaz televisi itu.
Sebenarnya program agama Islam televisi memiliki efek positif
yaitu orang yang mengikuti acara lebih banyak dibandingkan pengajian tatap
muka. Masyarakat juga dimudahkan belajar, tanpa harus meninggalkan aktivitas di
rumah. Hal ini terjadi jika ustaz yang dihadirkan memang layak disebut ustaz.
Namun jika orang yang dijadikan ustaz tidak memenuhi kreteria ustaz, maka efek
negatif muncul yaitu penyimpangan dari
ajaran Islam.
Saat ini televisi cenderung menghadirkan ustaz bergaya pelawak. Hal
ini bisa mengaburkan topik yang dibincangkan. Bahkan lebih celaka, tausiah itu
disampaikan dalam program hiburan yang bertentangan dengan syariat Islam.
Contohnya, "Ustaz" Maulana yang menyampaikan "tausiah" dalam
program YKS TransTV. Penulis menggunakan tanda kutip pada kata ustaz dan
tausiah sebagai penanda yang bersangkutan adalah ustaz bentukan televisi.
Materi tausiah yang disampaikan juga sesuai dengan ideologi televisi.
Contoh kasus pelanggaran syariat terjadi pada acara YKS 10
Desember 2013. Pemain wanita yang tampil memakai rok pendek.
Mereka juga "berangkulan" dengan pemain pria di hadapan sang
"ustaz". Padahal kedua hal itu dilarang dalam syariat Islam. Sementara
itu pada edisi 12 Desember 2013, kehadiran "ustaz" Maulana diiringi
dengan musik dan tarian seorang wanita. Setelah mengucapkan salam, seorang
pemain – Wendi – memanggil pemain dengan mengatakan "kok sepi".
Setelah itu musik pun mengalun. Muncullah wanita memakai rok sebatas lutut
menari-nari. Awalnya, wanita itu menari di belakang ustaz kemudian bergerak ke
depan. Saat menari, sang "ustaz" melihat wanita itu sambil bertepuk
tangan. Jika "ustaz" Maulana menyadari fungsi seorang dai, ia pasti
tahu kehadirannya akan melegitimasi segala perbuatan yang terjadi dalam acara
itu.
Selain hal di atas, ustaz pelawak membuat kewibawaan seorang ustaz
akan memudar. Hal itu juga dapat dilihat dalam acara YKS. Sesuai format acara
yang penuh humor, maka para pemain sepanjang acara melawak terkecuali saat "ustaz" memberikan tausiah. Pada edisi
10 Desember 2013, Wendi tiba-tiba muncul bergaya seorang ustaz. Ia tampil dengan baju koko dan selempang serta
memakai peci hitam. Tidak ketinggalan anting-anting menempel di kedua belah
kupingnya. "Ustaz" Maulana lalu mendekatinya. Ia berkata posisi peci
akan menentukan status sosial orang yang memakainya. Lalu ia pun memutar-mutar
peci di atas kepala Wendi sembari menyebutkan fungsi sosialnya. Terakhir kali
Wendi yang merubah letak peci sembari menyebutkan posisi itu seperti Si Unyil.
Selepas itu, Wendi memainkan sal. Ia mengubah-ubah letak sal di
tubuhnya sembari menyebutkan fungsi sosialnya. Selesai itu Olga tampil ke depan
meminta "ustaz" Maulana melakonkan hal yang sama. Aksi ini mengundang
gelak tawa penonton. Kita mengetahui peci dan sal merupakan simbol seorang
ustaz. Ketika simbol sosial itu dipermainkan maka fungsi sosial yang timbul
dari simbol itu akan telecehkan. Apalagi hal itu dilakukan seorang yang
ditokohkan sebagai ustaz. Kondisi ini
diperparah lagi sikap sang "ustaz" yang ikut tertawa-tawa. Apakah
"ustaz" Maulana menyadari ini atau tidak?
Pertimbangan stasiun televisi
membuat sebuah program adalah rating. Apabila program itu mengundang banyak
penonton maka akan dibuat. Kalau rating tinggi maka sponsor pun akan masuk.
Stasiun televisi tidak peduli apakah program itu melanggar nilai budaya,
apalagi norma agama. Acara YKS sebenarnya menimbulkan kritik dari pemerhati
media dan tokoh agama. Acara ini kerap menampilkan goyangan sensual.
Kehadiran "ustaz" Maulana pada program itu seolah
melegalkan semua tayangan pornografi yang ada dalam acara itu. Apalagi ia
mengeluarkan komentar bahwa dirinya sangat suka menonton acara YKS karena
membuat acara itu membuat keluarga berkumpul. Apakah ukuran acara bagus dari
sisi agama hanya karena bisa mengumpulkan keluarga? Apakah pelanggaran syariat
bisa diabaikan jika program itu bisa
mengumpulkan anggota keluarga? Tentu komentar ini tidak layak disampaikan
seorang pendakwah yang mengajak kepada jalan Allah.
Peringatan
Rasulullah
Jauh sebelum peristiwa ini,
Rasulullah telah mengingatkan umat agar hati-hati dengan penceramah yang
bermunculan. Dari Abu Dzar, bahwasannya Rosulullah bersabda :
Sesungguhnya kalian sekarang ada pada zaman yang banyak ulama (ahli ilmu)nya
dan sedikit khutoba' (penceramah)nya, barangsiapa yang meninggalkan
sepersepuluh dari yang ia ketahui maka dia telah tersesat. Dan akan datang
suatu zaman ketika itu banyak khutoba' (penceramah)nya dan sedikit ulama(ahli
ilmu)nya, barangsiapa diantara mereka berpegang pada sepersepuluh agamanya maka
dia telah selamat. (HR. Imam Ahmad).
Merujuk dari
hadits ini, nabi membedakan antara penceramah dengan ulama. Siapakah ulama itu?
Ibnu
'Abbas ra menafsirkan ulama dengan "orang yang mengenal Allah dari
hamba-hamba-Nya, tidak menyekutukan-Nya, menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya,
mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, menjaga dan yakin bahwa Allah akan
menjumpainya dan menghisab amal perbuatannya." Pendapat ini sesuai dengan firman Allah:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al- Fathir –
28).
Ketundukan
kepada Allah ditandai dengan menjaga diri dari hal-hal yang mendatangkan murka
Allah. Ulama juga istiqomah menjalankan beragam kebajikan yang membuat Allah
mencintainya. Imam Ath-Thabari berkata, “Sesungguhnya
yang takut kepada Allah, menjaga diri dari adzab dengan menjalankan ketaatan
kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu. Mereka mengetahui bahwa Allah
Maha Mampu melakukan segala sesuatu, maka mereka menghindar dari kemaksiatan
yang akan menyebabkan murka dan adzab Allah"
Namun
fenomena yang terlihat saat ini berbeda. Orang yang menceramahkan agama tidak
memiliki karakter ketundukan kepada Allah. Perbuatan mereka sebagai penyeru
Islam tidak menunjukkan sebagai orang yang takut terhadap Allah. Bahkan dalam
kegiatan berdakwah mereka mencampurnya dengan kemaksiatan. Mereka mengotori kemurnian ilmu agama dengan
buaian kemewahan duniawi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
mengingatkan: “Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendapatkan tujuan dunia,
maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat.” (HR Abu Daud
no: 3664 dengan sanad yang shahih, Ibnu Majah no: 252, Ibnu Hibban no: 89)
Melihat fenomena ini, seorang muslim
tidak menonton program televisi yang mencampur-adukkan tayangan dakwah dengan
acara hiburan yang penuh kemaksiatan. Umat Islam harus memilih penceramah yang
berkarakter ulama, yaitu konsisten menjaga diri dari kemaksiatan. Tak kalah
penting, umat Islam juga mendorong Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan
sanksi kepada televisi yang membuat program agama yang menyalahi syariat Islam. (Tulisan ini dimuat di Harian Waspada, Jumat 31 Jan 2014)
Kamis, 09 Januari 2014
Selaraskan Ucapan Dengan Perbuatan
SELARASKAN UCAPAN DENGAN PERBUATAN
Oleh
: Muhammad Hidayat
Sering kita mendengar orang bilang;
"aku orangnya bla,bla....". Ada juga orang mengungkapkan "nanti,
saya akan melakukannya". Ucapan itu disampaikan untuk menunjukan jati diri.
Sayangnya, pernyataan itu dibantah sendiri. Bukan dengan ucapan, tapi dengan
perbuatan. Bukankah kita sering berbuat sesuatu yang tidak selaras dengan
penyataan. Kita bisa bilang diri kita itu sebagai orang yang begini begitu,
tetapi perbuatan menunjukkan hal yang berbeda dengan ucapan itu. Ingatlah,
manusia itu diukur dengan perbuatannya bukan dengan cakapnya.
Allah memerintahkan orang beriman
agar menyelaraskan perkataannya dengan ucapannya. Allah membenci orang yang
tidak menyesuaikan ucapannya dengan perkataannya. Anjuran itu termaktub dalam
surah Ash Shaf ayat 2 – 3. Redaksinya berbunyi:
2.
Wahai orang-orang yang beriman,
mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3.
Amat besar kebencian di sisi Allah jika
kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan".
Ayat ini menggunakan kata "taf'aluun"
yang berbentuk fi'il mudhori'. Dalam bahasa Arab, fi'il mudhori'
adalah kata yang menunjukkan pekerjaan yang sedang dilakukan atau akan
dilakukan. Maka dari kata "taf'aluun" dapat disimpulkan, selaras perkataan dengan perbuatan ini dapat
dikelompokkan dalam dua sikap. Pertama; mengerjakan perbuatan yang
dijanjikan akan dilakukan. Kedua; tidak bercerita tentang perbuatan yang
tidak pernah dilakukan.
Menepati Janji dan
Tidak Bohong
Janji adalah bagian kehidupan
manusia. Kita selalu mengucapkan kata "saya akan" dengan mudah.
Sayangnya, jarang dipikirkan konsekuensi dari ucapan itu. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut
tanpa pertimbangan matang. Akibatnya, kita tidak serius melakukan perbuatan
yang telah kita janjikan itu.
Mungkin, saat berbicara kita
mengganggap perkataan itu biasa aja. Namun lawan bicara menilai pernyataan itu
sebagai sebuah komitmen yang akan dipenuhi. Hal ini membuat kepercayaan lawan
bicara kita hilang ketika pernyataan itu tidak dipenuhi. Kondisi paling parah,
kita dicap sebagai pembohong. Nah, kalau label pembohong telah menempel pada
diri seseorang maka ia akan sulit membangun hubungan dengan manusia lainnya.
Dalam surah Al-Maidah ayat 1, Allah
memerintahkan orang beriman supaya memenuhi janjinya. Redaksi ayat; "Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu". Para ulama mengatakan
kata aqad-aqad dalam ayat ini bermakna janji setia hamba kepada Allah serta perjanjian
sesama manusia dalam pergaulan sesamanya. Orang yang berjanji akan
mempertanggung jawabkan janjinya dihadapan Allah dan manusia. Allah
mengingatkan itu dalam surah Al Isra ayat 34, redaksinya; "penuhilah
janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya"
Selain menepati janji, orang beriman
dilarang bercerita tentang perbuatan yang tidak pernah dilakukan. Orang yang
mengatakan berbuat sesuatu tapi tidak melakukannya adalah perbuatan bohong. Ada
orang yang suka bercerita tentang sesuatu perbuatan padahal pekerjaan itu tidak
pernah dilakukannya. Hal ini dipicu dua hal. Pertama; menilai cerita
tersebut cuma guyonan. Saat bercerita sering kali tanpa kesadaran. Ia menilai
semua ucapannya hanya sebagai candaan tanpa makna. Orang seperti ini baru
memikirkan ucapannya jika menimbulkan dampak buruk bagi dirinya.
Kedua; sebagai upaya menarik simpati orang
lain (lawan bicara). Lazimnya, orang seperti ini mengisahkan pekerjaan yang sulit
dikerjakan orang kebanyakan. Termasuk juga pekerjaan yang bisa menimbulkan
kemaslahatan masyarakat. Harapannya, lawan bicara memberikan penilaian positif.
Kalau penilaian positif itu telah
didapat, maka ia akan mudah mengendalikan lawan bicaranya.
Korelasi Iman dengan Ucapan
Bohong atau ingkar janji adalah
aktivitas lidah. Karena, lidah itu mudah digerakkan maka acapkali orang
mengeluarkan kalimat bermuatan janji dan kabar bohong. Dalam Al-Quran banyak
memuat perintah menepati janji dan larangan berbohong. Kalau diperhatikan ayat tersebut,
ada kolerasi iman dan ucapan. Contohnya; ayat yang bercerita tentang janji lazimnya
dihubungkan dengan kata iman.
Al-Quran menyebutkan menepati janji
merupakan indikator orang yang bertaqwa. Hal itu diterangkan dalam surah Al-Baqarah
ayat 177. Dalam ayat itu dimulai dengan
kata "bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan". Pada lanjutan ayat, dijelaskan beberapa kreteria kebajikan
itu, salah satunya adalah menepati janji jika berjanji. Akhir ayat ditutup
dengan kalimat "mereka Itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa"
Merujuk ayat ini, menepati janji
adalah sebuah kebajikan. Kalau seorang mengingkari janjinya maka ia telah melakukan
suatu perbuatan buruk. Selain itu, kadar keimanannya dapat diukur dari komitmennya
menepati janji yang telah diucapkan. Jika seseorang, selalu melanggar janjinya
maka kadar keimanannya masih rendah. Alasanya, pada akhir ayat Qur'an menyebut
menepati janji adalah indikator orang yang shiddiq (benar imannya).
Ayat-ayat tentang perintah menyeleraskan
ucapan dengan perbuatan itu ditujukan kepada semua mukmin. Semua orang yang
beriman harus berkomitmen menepati janji yang telah diucapkan. Selain itu, seorang
mukmin tidak boleh mengakui-ngaku berbuat sesuatu padahal itu tidak pernah
dikerjakannya.
Saat ini masa kampanye Pemilu 2014.
Pada masa ini janji bermunculan. Para Caleg dengan mudah mengumbar janji dan
berita keberhasilannya. Pada baliho dan spanduk, Caleg memuat program kerja
yang akan dilakukan kalau terpilih. Hal ini
biasanya dilakukan oleh Caleg yang belum terpilih. Sebaliknya, Caleg
yang sedang menjabat di legislatif menonjolkan program kerja yang dibuatnya.
Sebagai Caleg muslim seharusnya menghindarkan
diri dari dari slogan kampanye yang tidak dapat dipenuhi. Bagi Caleg yang sedang
menjabat di legislatif seharusnya tidak menceritakan sesuatu yang tidak pernah
dilakukannya. Siapa pun – Caleg atau bukan – seharusnya seorang mukmin
berkomitmen menyelaraskan perkataan dengan perbuatan. Karena hal itu menjadi
indikator keimanan. (Tulisan ini dimuat dalam Rubrik Mimbar Jumat Harian Waspada Medan)
Selasa, 31 Desember 2013
Mari Pahami Anak Kita
Mari Pahami Anak Kita
Tadi siang aku ke Gramedia. Saat naik ke lantai dua, aku melihat seorang laki-laki "menggiring" seorang anak. Anak itu kira-kira usianya 4 thn. Anak itu dibawa turun ke lantai satu. Kenapa kusebut menggiring? Laki-laki itu memegang tangan kiri anak itu, dia nampak tergesa, terdengar suaranya bernada tinggi. Si anak memegang roknya, pas dibagian "anunya".
Aku menduga si anak pipis. Akibatnya, si ayah panik.
Melihat peristiwa itu, aku teringat pada diriku sendiri. Seringkali peristiwa seperti itu membuat panik. Anehnya, kita memaksa anak itu bersikap seperti kita orang dewasa. Kita memaksa dia bisa mengontrol prilakunya, termasuk mengontrol kapan si anak harus pipis.
Memang benar, orang tua harus mengajari anaknya bagaimana harus bersikap. Namun harus diingat, ada kondisi tertentu yang membuat sianak bingung menentukan sikapnya. Salah satunya, adalah cara kita bersikap kepadanya. Contoh; saat ia sesak pipis, mungkin dia ragu mengatakannya kepada kita. karena takut mengganggu kesibukan kita. Akhirnya, ia tak sanggup menahan pipisnya dan keluar sendiri.
Dari kasus ini, ada perasaan yang timbul dalam hatiku. Seorang ayah harus belajar memahami anak dari kacamata seorang anak. Bukan dari kacamata seorang ayah yang sok dewasa, sok sibuk, sok tak mau diganggu, dan sok pintar.
Tadi siang aku ke Gramedia. Saat naik ke lantai dua, aku melihat seorang laki-laki "menggiring" seorang anak. Anak itu kira-kira usianya 4 thn. Anak itu dibawa turun ke lantai satu. Kenapa kusebut menggiring? Laki-laki itu memegang tangan kiri anak itu, dia nampak tergesa, terdengar suaranya bernada tinggi. Si anak memegang roknya, pas dibagian "anunya".
Aku menduga si anak pipis. Akibatnya, si ayah panik.
Melihat peristiwa itu, aku teringat pada diriku sendiri. Seringkali peristiwa seperti itu membuat panik. Anehnya, kita memaksa anak itu bersikap seperti kita orang dewasa. Kita memaksa dia bisa mengontrol prilakunya, termasuk mengontrol kapan si anak harus pipis.
Memang benar, orang tua harus mengajari anaknya bagaimana harus bersikap. Namun harus diingat, ada kondisi tertentu yang membuat sianak bingung menentukan sikapnya. Salah satunya, adalah cara kita bersikap kepadanya. Contoh; saat ia sesak pipis, mungkin dia ragu mengatakannya kepada kita. karena takut mengganggu kesibukan kita. Akhirnya, ia tak sanggup menahan pipisnya dan keluar sendiri.
Dari kasus ini, ada perasaan yang timbul dalam hatiku. Seorang ayah harus belajar memahami anak dari kacamata seorang anak. Bukan dari kacamata seorang ayah yang sok dewasa, sok sibuk, sok tak mau diganggu, dan sok pintar.
Rabu, 25 Desember 2013
Hegemoni Barat Terhadap Budaya Lokal
Hegemoni Barat Terhadap Budaya Lokal
Oleh: Muhammad Hidayat
Mungkin anda
bertanya, radio apa yang pendengarnya berasal dari kelas ekonomi menengah ke
bawah. Saya yakin, orang yang anda tanya akan menunjuk radio yang memutar lagu
dangdut, lagu daerah dan lagu India. Pertanyaan
selanjutnya, radio mana yang segment pendengarnya kelas ekonomi menengah
atas. Saya yakin, jawabannya adalah radio yang memutar lagu barat, apakah itu
genre pop, rock terutama jazz.
Nah, kalau
anda kurang percaya, silakan anda buka data Komisi Penyiaran Indonesia. Periksa
semua profile radio yang ada di Medan. Anda akan menemukan radio yang
menetapkan segment pendengarnya kelas ekonomi menengah ke atas, radio itu pasti
memutar lagu-lagu barat. Radio itu pasti tidak akan pernah memutar lagu
dangdut, lagu India apalagi lagu Melayu, Padang, Aceh, Jawa dan lain-lain.
Cerita di
atas merupakan gambaran sederhana hegemoni barat terhadap budaya lokal. Secara
tidak sadar kita telah menempatkan lagu-lagu daerah di Indonesia menjadi lagu
yang dinikmati masyarakat kelas rendah. Kecenderungan masyarakat untuk
menunjukkan diri berada pada kelas atas caranya mendengarkan lagu-lagu barat,
khususnya lagu jazz. Padahal lagu merupakan produk budaya tertentu yang tidak
bisa diukur produk budaya mana yang lebih baik.
Studi Kasus :
Lagu Moekandroe – Rafly
Hegemoni
adalah cara kelas penguasa menguasai kelompok lainnya dengan cara mengontrol
atau mempengaruhi pemikiran. Teori ini digagas oleh Antonio Gramsci. Menurutnya,
kepemimpinan suatu kelas karena adanya persetujuan yang bersifat sukarela dari
kelas bawah. Persetujuan kelas bawah ini terjadi karena keberhasilan kelas atas
dalam menanamkan ideologi kelompoknya. Internalisasi ideologis ini dilakukan
dengan membangun sistem dan lembaga-lembaga – yang disebut fungsinonaris hegemoni – seperti negara,
kebudayaan, pendidikan, dan lainnya.
Mengikut pemikiran ini, industri musik dan media hiburan (radio dan televisi)
merupakan fungsinonaris hegemoni.
Praktik hegemoni
terhadap budaya lokal dapat dilihat pada lagu Rafly, seorang seniman Aceh. Bersama
grup musiknya Kande, Rafly ingin menginternasinalisasi music Aceh. Dua alat
musik tradisional yang ditonjolkan adalah serune kalee dan rapai.
Serune
Kalee adalah instrumen tiup tradisional Aceh. Biasanya alat musik ini dimainkan
bersamaan dengan Rapai dan Gendrang pada acara-acara tarian dan penyambutan
tamu kehormatan. Sementara itu, rapai
merupakan sejenis instrumen musik pukul (perkusi) yang berfungsi mengiringi
kesenian tradisional. Bentuknya seperti rebana dengan warna dasar hitam dan
kuning muda.
Lagu-lagu Rafly
terkenal di Indonesia pada saat Tsunami dulu. Radio dan televisi menjadikan
lagu ini sebagai musik latar saat menyampaikan informasi tentang tsunami Aceh. Namun
setelah peristiwa tsunami itu tidak lagi hangat, radio dan televisi Indonesia tidak
lagi memutar lagu-lagu Rafly. Tidak ada radio yang berani menyandingkan
lagu-lagu Rafly dengan lagu-lagu barat, seperti Michael Jackson, Mariah Carey,
Whitney Houston, Incognito atau Level 42.
Lagu Rafly
hanya dimasukkan dalam program lagu daerah. Radio yang memutar lagu Rafly
adalah radio yang dikelompokkan sebagai radio "kelas bawah". Kondisi
ini berubah, ketika lagu itu diaransemen ulang dengan warna music jazz oleh
Dwiki Dharmawan. Beberapa bulan lalu Rafly tampil membawakan lagu Moekandroe dengan
warna jazz di sebuah televisi swasta. Orang-orang pun langsung menilai lagu
Moekandroe naik kelas.
Lagu
Moekandroe adalah lagu yang terdapat dalam album Moekandroe yang dirilis tahun 2006
lalu. Album ini kental warna Aceh dengan mengedepankan alat musik serune
kalee dan rapai. Hal itu juga terlihat dari cara Rafly bernyanyi
yang mengikuti gaya Rapai Geleng Aceh Selatan. Tetapi pada kemasan jazz,
instrumen yang lebih menonjol adalah piano yang dimainkan Dwiki Dharmawan.
Hal yang
perlu kita ingat, music jazz adalah warna music yang berasal dari negara barat.
Mengutip Wikipedia, jazz adalah aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat pada
awal abad ke-20
dengan akar-akar dari musik Afrika dan Eropa. Musik jazz banyak menggunakan gitar, trombon, piano, trompet, dan
saksofon.
Elemen penting dalam jazz adalah blue notes, improvisasi, polyrhythms,
sinkopasi, dan shuffle note. Maka saat lagu Moekandroe itu dikemas
dengan warna jazz, instrument Aceh yaitu serune kalee dan rapai
menjadi tidak dominan. Padahal dua alat
musik inilah menjadi identitas musik Aceh yang selama ini mewarnai lagu Rafly.
Rekomendasi
Hingga kini industry music dunia
masih dikuasai Amerika Serikat. Ada lima perusahaan terkemuka yang
menguasai dunia musik, yaitu Universal, Sony Music, BMG, Warner Music, dan EMI. Keberadaan perusahaan ini bukan
sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap lagu-lagu. Perusahaan ini harus dilihat
sebagai institusi yang membentuk pola pikir masyarakat dunia tentang jenis musik
apa yang harus didengar. Yang perlu diingat, mendengar musik bukan hanya sebagai
hiburan, tetapi juga menentukan kelas sosial ekonomi.
Kebijakan media siaran (radio dan
televisi) menetapkan lagu berdasarkan indikator social ekonomi pendengar
membuktikan hegemoni barat terhadap budaya lokal. Alasannya, lagu yang kelompokkan dalam
lagu-lagu kelas atas adalah lagu-lagu barat. Sementara lagu-lagu daerah,
dikelompokkan sebagai lagu masyarakat kelas bawah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kebudayaan lokal khususnya
lagu daerah akan hilang. Masyarakat menjadi
enggan mendengar lagu-lagu daerah karena mendengar lagu daerah dinilai tidak
berkelas. Karena itu, media siaran harus berani menyetarakan lagu-lagu daerah
dengan lagu-lagu barat. Caranya,
penyiaran lagu-lagu daerah tidak perlu diputar dalam suatu program khusus
tetapi lagu daerah itu diputar di antara lagu-lagu barat. Tujuannya, agar lagu daerah itu sejajar dengan
lagu barat.(tulisan ini dimuat di Harian Waspada)
Langganan:
Postingan (Atom)
